(in)Toleransi di Indonesia

Menjelang pergantian tahun 2018, tak terasa sudah 3 tahun lebih saya tinggal jauh dari Indonesia. Rasa rindu tentang tanah air sudah tidak tertahankan lagi. Rindu abang-abang mie ayam, hujan segede biji jagung, dan makian-makian ala Indonesia.

Tapi 3 tahun ternyata waktu yang sangat panjang. Indonesia berubah. Transportasi gojek online berkembang pesat. Hingga saat ini, pantat saya belum pernah merasakan duduk di jok ojek online. Satu hal yang ingin sekali saya lakukan saat nanti pulang ke Indonesia.

Namun demikian dari semua perubahan itu, satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah tentang isu intoleransi beragama di Indonesia. Saat gonjang-ganjing pilkada Jakarta dimulai, isunya bergulir bahkan hingga ke komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri. Saya hanya bisa berdoa dari kejauhan, semoga bangsa kita tetap bersatu di tengah masifnya provokasi dari berbagai pihak.

Tetapi benarkah Indonesia darurat intoleransi beragama?

Setidaknya media mainstream mengatakannya demikian. Mulai dari media nasional, BBC, CNN, economist dll.

Namun saya masih mencoba tidak percaya. Jika benar masyarakat Indonesia intoleran, mengapa saat tinggal di Papua, saya sampai dijamu oleh masyarakat lokal non-muslim dengan masakan halal. Ketika hidup di Kalimantan, saya merasakan betul bagaimana kampung Kristen, kampung Islam, dan Kampung Dayak bersatu melawan perusahaan tambang. Dikampung halaman saya, yang mayoritas muslim, jarang sekali terdengar kasus penistaan terhadap agama lain.

Menjawab rasa penasaran itu, pagi ini saya sempat utak-atik data IFLS 5 berdasarkan survey sekitar 50.508 masyarakat seluruh Indonesia.

Berikut hasil analisa data yang saya temukan:

  • Mayoritas masyakat Indonesia (sekitar 2/3 dari total respondent), seberapapun tingkat relijiusitasnya, TIDAK MENOLAK apabila ada orang yang berbeda agama tinggal di lingkungan tempat tinggal mereka.
  • Kelompok yang paling banyak MENOLAK umat beragama lain tinggal di sekitar rumah mereka adalah mereka yang TIDAK BERAGAMA
  • Sekitar 80 persen kelompok masyarakat yang mengklaim dirinya relijius justru TIDAK MENOLAK apabila ada umat beragama lain tinggal di lingkungan mereka (tertinggi dibandingkan kelompok yang lain)

 TOLERANSI

 Keterangan:

  • Tingkat toleransi: Apa yang kamu rasakan jika seseorang yang berbeda agama tinggal di sekitar tempat tinggal anda?
  • Tingkat relijiusitas: Seberapa relijiuskah anda?
  • Karakateristik responden: Islam (88.95 %), Katolik (1.45 %), Protestan (4.42 %), Hindu (4.93%), Buddha (0.18%), Konghucu (0.07 %)

Data tersebut menyiratkan bahwa ternyata orang-orang yang memahami nilai-nilai keagamaan dengan baik justru memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap umat beragama lain.

Data ini juga menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat toleransi beragama yang baik. Tudingan bahwa umat Islam tidak bisa hidup dalam keberagaman sebagaimana ditudingkan oleh berbagai media barat juga tidak benar. Faktanya, responden yang mayoritas muslim (89 persen) tidak mempermasalahkan perbedaan beragama dalam kehidupan berkebangsaan.

Adakah orang-orang yang mengaku relijius tapi bersikap intoleran? Jawabannya ada, (6 persen). Sebaliknya, adakah orang-orang yang tidak relijius dan intoleran? Ada, jumlahnya mencapai 11 persen. Kedua kelompok inilah yang selama ini banyak memprovokasi masyarakat Indonesia. Mulai dari membubarkan kegiatan pengajian, mereka yang ribut di media sosial dengan menghina agama lain, ataupun menyebarkan berita-berita hoax.

Bagi saudara saya yang non-muslim, tak perlu khawatir dengan Islam. Islam sejati justru menjunjung tinggi perbedaan. Kita mungkin berlainan akidah tapi kita adalah sahabat sejati dalam bernegara.

Bagi saudara saya yang seiman, kalau ada info yang bernada provokasi, maka jangan mudah terpancing. Telitilah terlebih dahulu, karena Islam selalu mengedepankan tabayyun dan perdamaian (QS Al-Hujurat 49: 6)

Memang ada pihak yang punya kepentingan dengan mengambil keuntungan dari situasi ini dan memecah belah masyarakat Indonesia. Tapi saya berhak untuk optimis. Mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki sikap toleransi yang baik dalam beragama.

Media Wahyudi Askar, 9.19 pm (12/10/2017)

Penggerak KARISMA (Komunitas Muslim Manchester 2016-2017)