Memoar

mediaSaya lahir dan besar di sebuah kota kecil di Sumatera Barat. Sungguh bersyukur, karena melewati masa kanak-kanak yang jauh lebih beruntung dibanding masa kecil orang tua yang harus berjalan belasan kilometer, 7 kali menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah.

Tak ada yang benar-benar spesial. Dari kecil, saya pencinta buku sejarah, entah kenapa, rasanya membahagiakan membaca kisah heroik Bung Tomo, Cut Nyak Dien dan RA Kartini.

Selain pencinta sejarah, tak ada lagi hal istimewa yang lain, selain menjadi kepala geng perampok layangan yang putus dari kampung sebelah, handal menangkap ikan dan punya beberapa kardus permainan gambar dan beberapa kaleng kelereng.

Hari demi hari berjalan begitu cepat. Hingga akhirnya Allah menunjukkan jalan,  merantau ke negeri seberang, meninggalkan kampung halaman di usia 18 tahun.

Yogyakarta. adalah pelabuhan hidup saya saat itu, Kota yang mengajarkan banyak hal tentang penting nya pengetahuan, nilai kesederhanaan dan perjuangan hidup. Yogyakarta, juga menjadi titik balik perjalanan hidup saya, dari seorang anak kampung yang akhirnya berani bermimpi setinggi langit

Masih ingat, hari itu, 2010, di Mirotta kampus lantai dua, di rak nomor 2, saya membeli peta salah satu benua di dunia, dan menempelkannya di dinding kamar kosan. Dengan penuh keyakinan, meneguhkan mimpi, keliling Indonesia sebelum lulus sarjana, dan keliling dunia !!

Tahun 2011,  saya jejaki belahan pulau Indonesia terjauh, Papua. Berikutnya saya jelajahi kalimantan. Hingga akhirnya tahun 2014. saya menginjakkan kaki menuntut ilmu di tanah eropa.

Entahlah, jika boleh jujur, di suatu titik, sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin saja ini bukan hanya tentang perjuangan dan ikhtiar, tetapi juga doa orang tua yang ijabah, dan tentang kisah persahabatan dari teman-teman yang selalu mendukung saya hingga saat ini.

Untuk sahabat dan handai taulan yang tengah berjuang. .

Mimpi Hari Ini, Kesuksesan Esok Hari. .

Yakinlah. .