Doa, Hikmah dan Harapan

Namanya Epi, asalnya dari “busuik”. Untuk sampai ke kampung itu, kita harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari kota Sawahlunto, dan dilanjutkan dengan jalan kaki naik turun bukit sekitar 30 menit. Dulu tidak ada listrik, tidak ada fasilitas publik dan hanya dihuni oleh 10 kepala keluarga. Ibarat kata, itu hutan.

Tinggal jauh dari sekolah, memaksa Epi dan adik-adiknya harus berjalan kaki begitu jauh menuju sekolah. Karna jarak itu juga, dia jarang masuk sekolah. Sehingga meskipun akhirnya lulus SD, hanya ada dua mata pelajaran di rapornya yang berwarna hitam.

Melihat kondisi keluarganya yang tidak mampu, pertengahan tahun 2003, Ayah dan ibu saya memutuskan untuk membawanya, mengasuh dan menyekolahkannya serta tinggal bersama kami di kota Batusangkar. Saya masih ingat wajah lugunya pada hari pertamanya tinggal dirumah kami. Senyum kecil gak jelas dan kebanyakan diam (haha). Sejak saat itu, biar rada keren dikit, kami memanggilnya Selvi.

Yang paling saya ingat, Ayah saya mengalami kesulitan mencarikannya sekolah. Dengan rapor merah merona itu, tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Akhirnya setelah nego sana-sini, dia diterima di salah satu SMP di kota Batusangkar.

Rapor pertamanya benar-benar mantap. Rangking terakhir di kelas!! Haha. Orang tua saya tidak marah. Ibu pernah bilang, “ya wajar, gapapa, dulu di kampung gak pernah sekolah, jangan disamakan dengan kamu, dari kecil didampingin belajar tiap malam”

Tapi ajaibnya, saat terima rapor berikutnya orang tua saya kaget bukan kepalang. Selvi juara kelas. Kami sekeluarga bingung !!. Disitulah saya sadar, tidak ada orang bodoh di dunia ini. Ternyata benar bahwa pendidikan hanya soal kesempatan dan pendampingan. Kesempatan untuk menikmati fasilitas sekolah yang layak serta pendampingan yang cukup dari guru dan orang tua.

Waktu terus berlalu, Selvi akhirnya bisa mengaji, rajin shalat malam dan paham ilmu agama. Sesuatu yang tidak didapatkan oleh saudara-saudaranya di kampung.

Beberapa bulan yang lalu, dia menghubungi saya dan menyatakan keinginannya untuk menikah. Alhamdulillah, setelah shalat istikarah, dia memantapkan hatinya. 7 Agustus 2017 adalah momen bersejarah untuk keluarga kami. Selvi dipersunting oleh pujaan hatinya.

Pada hari pertama kedatangannya ke rumah. Ibu saya pernah berjanji untuk menyekolahkan dan mendidiknya. Sekarang, tugas itu usai sudah. Mengajarkan membaca, mengaji, shalat, beribadah, mengajarkan tata karma serta mengantarkannya ke gerbang pernikahan.

“Semoga kelak Selvi lah yang akan merubah nasib keluarganya”. Bagitu kata Ibu.

Dulu, saya tidak pernah tahu alasan ayah dan ibu menyekolahkannya. Saat masih bocah, saya pernah marah-marah karena setelah Selvi tinggal dirumah, lauk yang awalnya dibagi 2 dengan adik kandung saya, sekarang harus dibagi 3.  Banyak cerita congkak saya lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.

Tapi ternyata orang tua menyelipkan doa dan harapan dibalik semuanya.

Sungguh, saya beruntung memiliki orang tua yang hebat. Jarang ada orang yang mau menyisihkan hartanya untuk menyekolahkan orang yang tidak mampu, memberinya makan dan mendidiknya seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan tidak hanya Selvi, beliau juga menyekolahkan 6 orang lainnya. Padahal Ayah dan Ibuk bukan orang kaya. Pernah saya penasaran intip slip gaji Ayah sewaktu menjadi PNS, jumlah gaji bersih yang diterima hanya sekitar 800 ribu rupiah, setelah dikurangi cicilan rumah, kendaraan dan hutang koperasi lainnya. Padahal Ayah saya waktu itu sudah punya jabatan setingkat eselon IIIA.

Sebelum saya berangkat sekolah ke luar negeri, saya pernah bertanya kepada Tuhan. Mengapa saya begitu beruntung mendapatkan beasiswa, mulai dari S1, S2 dan S3 dan bahkan jika dijumlahkan sudah miliaran rupiah nilainya. Mungkin inilah cara Allah membalas budi baik yang telah dilakukan oleh orang tua saya. Allah mengganti harta yang beliau sedekahkan berkali-kali lipat jumlahnya untuk kebahagiaan anaknya.

Andai waktu bisa diputar kembali ke masa lalu, mungkin saya tidak akan pernah protes, “kenapa kita harus tinggal berdesak-desakan dengan orang lain. kenapa kita gak beli mobil mewah, kenapa rumah kita tidak seperti pejabat yang lain”. Mungkin saya tidak akan protes, “kenapa Ibu selalu beli limau (jeruk) yang harganya murah ketimbang anggur, apel dan semangka”. Ternyata itulah alasannya. Beliau meminta saya bersabar untuk menunggu hikmah dibalik semuanya.

Satu hal lagi, meskipun saat ini saya belajar tentang masalah pembangunan dan kemiskinan dari ilmuwan ternama, ternyata para professor-professor itu belum ada apa-apanya. Beliau lah “professor” yang sebenarnya. Nirgelar, tapi ikhlas, serta efektif mengurangi kemiskinan. Tidak seperti mereka yang duduk di depan komputer, publish di scopus dan lantas menasbihkan diri sebagai pakar kemiskinan.

Kemiskinan itu tidak hanya tentang gelandangan, kelaparan dan pengangguran. Kemiskinan juga soal kepedulian dan kasih sayang. Kepedulian dan kasih sayang yang harus dimulai dari dalam rumah kita sendiri. 

Selamat menempuh hidup baru Selvi, Bang ikut berbahagia

Di hari pernikahannya pasti banyak yang bingung, kok Selvi punya 2 ibu dan 2 ayah. Gapapa, senyum aja.

Tanpa Selvi sadari, kami pun belajar banyak dari kegigihan dan ksederhanaan Selvi. Bang minta maaf jika selama ini belum bisa memberikan keteladanan sebagai Kakak. Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Insya allah sampai kapanpun pintu rumah akan selalu terbuka untuk Selvi dan keluarga.

Tetaplah seperti anak kampung yang rendah hati. Abang, Papa, Mama, dan Mifta akan selalu jadi keluarga dan bagian terbaik dalam hidup Selvi.

Selamat berbahagia.

Salam dari kami di Manchester

Media & Utari

selvi1

selvi2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>