Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845 Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845 Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845 Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845

Catatan Perjalanan Tahun ke 25

22 September 2014. .

Kurajut erat mimpiku, kutunaikan petuah para perantau besar Tan Malaka, Agus Salim dan Mohammad Hatta. Berjalan mendayung angan, memandang sejauh alam terbentang, menegadah dan menatap luasnya alam. Kupaksakan badanku tuk tetap kuat, memetik intisari hidup, dan berguru kepada alam.

Puji syukur, hari ini, kurayakan ulang tahunku. 25 Tahun !!.

Ya, seperempat abad, 5 kuadrat, 5 kali jari tangan !!

 Tak ada niatan untuk menulis di hari ini, sebelum akhirnya, tanpa sengaja kubaca kembali, kertas mimpi yang kutulis dan kutempel dikamar, 6 tahun yang lalu.

 Dalam lelah dan dinginnya Manchester, kugoreskan tulisan ini sebagai refleksi hidup, teruntuk semua handai taulan, adik-adik dan sahabatku di Desa Talago Gunuang, Sumatera Barat.

 Ku hanya ingin katakan. Perjuangan, mimpi dan semangat tiada henti akan mengalahkan segala ke “tiada” an dan ke “lemah”an. Karena dengan menghadapinya kita belajar bagaimana menjadi pemberani, untuk membuat pilihan, mengambil resiko dan menemukan rahasia-rahasia hidup.

(1994-1999) 20 tahun yang lalu

Kuhanyalah anak kecil yang keras kepala, tak mau masuk sekolah hingga akhirnya harus menunda usia. Masuk SD di usia 6,5 tahun. Walaupun setidaknya ku beruntung, masa kecil yang mungkin tak seberat yang dihadapi oleh orang tuaku dulu, berjalan belasan kilometer, 7 kali menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah.

Tak ada yang benar-benar special. Dari kecil, ku adalah pencinta buku sejarah, entah kenapa, rasanya membahagiakan membaca kisah heroik Bung Tomo, Cut Nyak Dien dan RA Kartini.

Selain pencinta sejarah, tak ada lagi hal istimewa yang lain, selain menjadi kepala geng perampok layangan putus dari kampung sebelah, handal menangkap ikan “buncik paruik” dan punya beberapa kardus permainan gambar dan beberapa kaleng kelereng. Tak bisa dipungkiri, saat itu, masa paling bahagia. Setiap malam sebelum tidur ku hanya bermimpi bagaimana caranya menangkap capung dari getah nangka sebanyak mungkin, dan memenangkan pertandingan kelereng, sebelum akhirnya dibagi gratis ke teman-teman satu kongsi.

Memori lain yang paling kuingat adalah juara 1 memasukkan pensil pakai tali ke dalam botol dalam posisi jongkok. Hal yang sebetulnya wajar, karena setiap pagi memang nongkrong BAB dijamban, selokan belakang rumah.

Ya, hari-hari kuhabiskan di sawah, kali dan lapangan bola. Sesuatu yang mungkin tidak lagi didapatkan oleh anak-anak yang lahir setelah masifnya smartphone dan gadget.

Tapi hari ini, ,kusadari, alam adalah sekolah sesungguhnya !!. Hari-hari penuh antusias, belajar dari lingkungan, menemukan sahabat, dan merasai indahnya bumi pertiwi. Sesuatu yang lagi lagi lebih membahagiakan ketimbang mengerjakan tugas sekolah dan menghafal untuk menjawab pertanyaan, “Sebutkan isi pasal 19 UUD hingga pasal 34 ayat kesekian.

 (1999-2004) 15 tahun yang lalu

Sambil mencoba mengingat ingat kembali apa yang kulalui, hingga hari ini tak ada satupun pilihan hidupku dari paksaan orang tua. Ku memilih jalur berbeda, masuk SMP 1 batusangkar, ketika semua teman SD ku memilih masuk SMP 2. Tantangan baru, pergaulan baru dan ketakutan yang baru. Benar saja, prestasi akademikku menurun drastis. Tak ada lagi hadiah buku paperline berbungkus kertas coklat sebagai imbal prestasi juara kelas sebagaimana yang kuterima saat SD dulu, bahkan di satu semester ku pernah menerima rapor peringkat 2 terakhir di kelas.

Entah apa yang kupahami saat itu, tapi yang kuingat persis adalah, ku belajar menjadi manusia yang lebih utuh, setidaknya ku bisa bebesar hati karena pernah juara petatah petitih minangkabau. Mahir memainkan bansi (music tradisional minang) disaat tak satupun teman sejawatku yang bisa memainkannya. Dan yang lebih membahagiakan lagi, bisa nyari uang ketika ada kompetisi MTQ di bulan Ramadhan. Tapi, kuyakin, saat itu, orang-orang mungkin hanya akan mengingatku anak kecil kurus, kecil, pendek dan berlarian kesana kemari gak tau arah

(2004-2009) 10 tahun yang lalu

 Kata jamak orang, masa berseragam abu-abu adalah masa yang paling penuh kenangan. Saksi atas segala kisah anak manusia yang beranjak dewasa. Ku sungguh beruntung bisa bersekolah di SMA terbaik se Kabupaten, disaat 46 orang temanku dinyatakan tidak lulus Ujian Nasional. Tapi, kembali lagi, SMA masa penuh membahagiakan, sayang jika dilewatkan jika hanya untuk membuat tugas setiap malam. Haha. 15 menit sebelum masuk kelas adalah saat yang tepat untuk mengerjakan tugas !!. Alhasil, tetap tidak ada buku paperline yang kuterima seperti halnya juara kelas di SD dulu. .Saat itu, ku berpikir, semua orang makin lama makin pintar, kecuali Media Wahyudi Askar. Masih ingat, ada salah satu teman SD ku dulu yang selalu jadi juara umum. Jangankan menyainginya, menghindari remedial pun ku tak sanggup, oh tidak, hinanya diri ini.

 Yang paling kuingat, ku beberapa kali bikin masalah di sekolah. Sempat dimarahi, karena pindah jurusan dari IPS ke IPA, belum lagi, diteriaki kepala sekolah, karena dikira menyiksa mahasiswa baru saat pelaksanaan MOS. Tapi, ku sadar, sesadar sadarnya, saat itu adalah titik balik perjalanan hidupku. Saat pertama kali ku belajar menjadi seorang pemimpin, Ketua OSIS. Yang pasti saat itu, tak banyak cerita sukses, guru-guru mungkin hanya akan mengingat, kepengurusan kami adalah satu-satunya kepengurusan OSIS yang paling nakal. Tapi, ya sudahlah, ku tidak pernah punya musuh di sekolah, minimal, orang-orang masih menganggapku kawan yang baik

 Akhir 2007, kumantapkan hatiku. Kuliah di Jawa !!. Bermodalkan nekat dan mimpi selangit, kukumpulkan uang untuk mengikuti tes UM UGM, dan pengen masuk jurusan IPS. Sesuatu yang seakan mustahil karena sudah kunasbihkan nasibku 2 tahun di jurusan IPA tanpa sedikitpun belajar IPS. 3 bulan, kuhafal, kucatat satu persatu soal sejarah, ekonomi dan akuntansi. Mimpi berbuah hasil. Lulus di UGM, jurusan Administasi Negara. Kisah perantauan dimulai. .

(2009-2014) 5 tahun yang lalu

Kehidupan di Jogja memang terasa indah, meski harus meninggalkan kampung halaman dan pulang sekali dalam setahun. Tapi yang jadi masalah beberapa selentingan orang dikampung masih sering terdengar. Jurusanmu apa ? nanti kamu jadi apa ? administrasi Negara ? bikin surat ?. Berulangkali kuhela nafas setiap kali orang bertanya semacam itu. Biasanya kukumpulkan tenaga, meski menyayat hati, kukatakan, “kerjaan nya nanti memang bikin surat !!”. Bahkan tak cuma orang dikampung, teman satu jurusanpun bingung, “kita akan jadi apa ?”. Bahkan ada juga yang memilih memutar arah, pindah kuliah. Oh tidak, ku nanti jadi apa.

 Tapi jika kuingat kembali pelajaran sejarah yang ku nikmati dulu saat SD, sepertinya Kartini tidak pernah berpikir mau jadi penulis buku, dan Bung tomo juga tidak pernah berpikir punya pekerjaan jadi moderator peperangan. Jenis pekerjaan urusan kedua, tapi mereka berdua punya mimpi yang kuat yaitu mengahiri keterbelakangan dan mengakhiri penjajahan.

Sambil mengingat mimpinya kartini dan Bung Tomo, Hari itu,2010, di Mirotta kampus lantai dua, di rak nomor 2, kubeli peta salah satu benua di dunia, kutempelkan didinding kamarku. Dengan penuh keyakinan, ku mantapkan mimpiku. .Keliling Indonesia sebelum lulus sarjana, dan keliling dunia. .!!

 “Rajin pangkali pandai” motto kertas yang ditempel dinding sekolah SD dulu barangkali adalah salah satu jalan. Berulangkali, kukatakan pada diriku sendiri, tak ada yang mustahil !! tak ada yang mustahil !!. sama halnya ketika siswa IPA bisa masuk jurusan IPS

2010, Allah membukakan jalan, ku dipercaya menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, tak selang beberapa waktu kemudian berbekal pengalaman memimpin organisasi, ku memimpin Tim KKN UGM menuju Indonesia paling timur, Papua.

 Allah mendengar doaku. .

Sungguh kebahagiaan yang tak terhingga bisa menuju papua, naik kapal 6 hari 6 malam dan 24 jam perjalanan darat. Tapi semuanya terbayar lunas, hidup bersama anak-anak kampung papua telah membawaku pada bentuk kebahagiaan yang lain. Ditengah keterbatasan ternyata mereka sangat bahagia, kebahagiaan yang persis sama seperti yang kurasakan saat kecil dulu. Pemahaman yang lagi-lagi kudapatkan dari alam, bukan bangku sekolah.

Setahun berikutnya, allah memberikan anugerah yang lain, menjadi mahasiswa terbaik jurusan, bekerja untuk masyarakat tambang, dan hidup ditengah masyarakat Kalimantan. .

Alhamdulillah allah mengabulkan mimpiku menjejaki belahan pulau Indonesia terjauh. .

Entahlah, jika boleh jujur, di suatu titik, ku sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Allah begitu sayang kepadaku. Mungkin saja ini bukan hanya tentang perjuangan dan ikhtiar, tetapi juga doa orang tua yang ijabah, dan tentang kisah persahabatan dari teman-teman yang selalu mendukungku hingga saat ini.

Hari ini. .

 Tepat diumur 25 tahun, kugapai benua Eropa. Ku mendapatkan beasiswa LPDP untuk studi ke luar negeri. Sesuatu yang dulu hanya mimpi yang terparkir di dinding kamar kosan. Mimpi yang dulu hanya kutulis didalam hati. Mimpi yang dulu rasa-rasanya tidak mungkin tercapai untuk seorang anak yang berasal dari keluarga orang tua penerima zakat. Mimpi yang dulu, rasanya tidak mungkin diraih oleh suku kami, Piliang, yang selalu diremehkan tidak punya sawah dan ladang. Tapi hari ini, kubuktikan tidak ada yang bisa mengalahkan semangat, mimpi, perjuangan, keyakinan hati dan ketetapan Allah.

Kegagalan memang telah mengantarkanku pada arti sebuah perjuangan, gagal olimpiade IPS tingkat kecamatan, gagal dalam lomba siswa berprestasi saat SMA, gagal memimpin organisasi, gagal masuk UI, gagal dalam kompetisi mahasiswa berprestasi, gagal dalam kompetisi karya ilmiah, gagal tes tahap akhir Bank Indonesia dan SKK Migas, gagal di tes pertamina dan chevron, gagal diterima bekerja di 15 perusahaan lainnya, tidak diterima di Cambridge

Tapi dibalik segala kegagalan. .mimpi besar telah mengantarkanku pada pengalaman yang tak terpikirkan sebelumnya

Hari ini kusaksikan bintang gemintang langit eropa, padang rumput gembala, dan bangunan bangunan tua berwarna merah. Berjalan melintasi lautan dan daratan, menicipi 4 musim bumi, mengenal filsuf dan scientist dunia dan memahami makna-makna alam yang tersirat dari belahan bumi yang lain.

Terima kasih Rab, untuk 25 tahun yang membahagiakan

Hari ini mungkin bukan akhir dari segalanya, bisa jadi awal dari perjalanan yang lebih berat, aku bisa saja gagal lagi, dan menjadi pengecut dan pecundang, tapi ah sudahlah, bukankah Engkau pengatur masa depan. Lagipula, ku sudah cukup sering berbahagia menerima kegagalan.

Untuk adik2ku yang sdg mnempuh mimpi

Untuk kampungku, talago gunuang. .

Orang terbaik dalam hidupku pernah bilang, Hidup harus menuju satu titik, agar hidup terasa searah dan seperti apa yang kita inginkan. Tapi tak bisa dipungkiri banyak halangan yang mungkin membuat kita berubah pikiran. Jangan menyerah seperti pengecut, tapi berjalanlah seperti pelaut, biar lambat akan dilaluinya, samudera yang luas tanpa menghiraukan hambatan yang ada.

Hari ini pula, 22 September 2014. kubaca kembali, tulisan kerta merah, kertas mimpi yang kugoreskan 6 tahun yang lalu. Enam kata yang masih terlihat jelas dibagian atas kertas yang sudah mulai mengabur karena tetesan air. .

Disana masih tertulis jelas

Mimpi hari ini, kesuksesan esok hari. .

Enam kata yang menjadi labuhan hidupku selama ini

 

 mimpi

Dari sudut ruangan

Hathersage Road, Manchester

Media Wahyudi Askar

One thought on “Catatan Perjalanan Tahun ke 25

  • 27th September 2015 at 6:48 pm
    Permalink

    Aku juga dulu punya kertas mimpi, eh, jurnal mimpi :)) Gadis kecil berumur 14 tahun, dari kota kecil di Jawa Tengah, yang ke Jakarta saja harus menabung sekian lama, menulis di buku hariannya, “I will go to Europe someday. I know I will.” Dan Tuhan begitu baik, mendengar mimpi gadis kecil itu.

    Happy birthday, once again ya, Media. Sukses untuk impian yang lebih besar dan lebih memberkati banyak orang ;)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>