Catatan Perjalanan Tahun ke 24

Tepat 24 tahun yang lalu dunia bersuara. Allah menunjukkan kebesaraannya. Meskipun hanya dilahirkan di sebuah rumah sakit kecil diujung kota dan hampir tidak selamat ditangan seorang bidan. Alhamdulillah saya bisa lahir dalam keadaan “hidup”. Sungguh sebuah anugerah besar buat keluarga karena saat itu memori meninggalnya kakak tertua masih erat membekas di ingatan orang tua

Sambil mencoba mengingat kembali cerita hdup satu tahun ini, diatas pesawat susi air muara teweh balikpapan saya goreskan tulisan ini untuk orang orang yang kusayang, dan handai taulan yang selama ini telah mendukung saya untuk tetap hidup. Tetap hidup dalam sulit, menyelami alam yang makin pahit, tetap hidup meski beberapa kali pernah disuguhi clurit.

Saya menyadari satu tahun ini adalah tahun yang tidak mudah.Terombang ambing di sesak orang Jakarta, belajar bagaimana hidup menjadi sebuah individu. Selanjutnya mengembara dari hutan ke hutan, tambang ke tambang, mengayuh sejauh mungkin sungai barito Kalimantan dan berguru sejauh mungkin tentang alam, kehidupan pedalaman, dan belajar dari hati kecil manusia-manusia alam. Saya ajarkan badan ini untuk terus kuat berjalan, untuk tak lelah mencari petuah dan terus menyingkap rahasia-rahasia alam yang tak tersirat.

Karena terlahirkan sebagai manusia,Terus terang kadang saya takut, takut mati ditembak orang, takut mati tenggelam,takut tak bisa pulang ke daerah asal. Takut impian tak tercapai.

Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, Setahun ini, saya mencoba meyakinkan hati untuk menjadi pegiat CSR, semacam pembela masyarakat yang dipahami banyak orang. Meski akhirnya saya sadar badan kurus ini sekarang tak lebih dari sekedar tameng hidup perusahaan tambang tempat saya bekerja. Agar tidak didemo, karyawannya tidak dipukuli, dan assetnya tidak dibakar orang.

Yang terjadi tetap saja sama. “Sama”- sama tidak ada gunanya seperti teriakan saya dulu waktu ikut organisasi mahasiswa. 

Saya hanya bisa terkaget kaget ketiga seorang pegawai dispenda dengan gampangnya mempermainkan ratusan juta bahkan miliyaran pajak-pajak perusahaan. .

Saya akhirnya tahu bahwa ternyata hal yang lumrah ketika seorang kepala desa berani mengacungkan mandau (clurit) bukan untuk masyarakatnya tapi untuk perutnya sendiri. .

Saya akhirnya tahu bahwa dibalik sebuah perusahaan tambang ada militer dan kekuatan kapitalis global yang bekerja. .

Saya akhirnya hanya bisa menutup mata untuk ratusan karyawan local dan masyarakat yang “sebetulnya” dibohongi oleh kebijakan-kebijakan perusahaan. .

Belum lagi saya harus pura-pura bodoh ketika masyarakat betanya, “Pak, batubara itu pembangkit listrik ya pak, kampong kita ada batubara kok kita gak ada listrik pak ?. .

Perjalanan terberat adalah ketika dua hari yang lalu, yang saya takutkan selama ini terjadi. Saya akhirnya dipaksa menjadi pelawan masyarakat ketika harus mewakili perusahaan membalikkan piring nasi orang, mem PHK 100 an orang karyawan tambang. Sesuai prediksi, ancaman diparang, ditembak dan dihakimi, terdengar jelas ditelinga. Bahkan makin lengkap ketika Jumat malam yang lalu, serangan kebathinan datang, sebuah benda aneh terbang mencoba melukai saya meskipun berkat kuasa allah hanya menyisakan luka yang tidak terlalu dalam.

Setahun ini saya menjadi manusia topeng. Menjadi saksi pelaku pemberdayaan masyarakat dan pada saat yang sama melakukan penindasan masyarakat. Ketika ada warga setempat menuntut kedaulatan atas tanah, aparat militer dan kepolisian mengokang senjata mengamankan (ku) dan asset investor tambang dengan dalih pertambangan dapat meningkatkan penerimaan daerah, investasi dan lapangan kerja.

Kesimpulannya akhirnya sederhana. Tak ada tanda-tanda masyarakat sejahtera dengan adanya perusahaan tambang

Memang masih banyak cerita yang berlum terungkap, tapi yang pasti saya syukuri hingga berulang tahun ke 24 ini saya masih diizinkan allah bersama orang-orang hebat, Saya masih punya orang tua, adik, pendamping hidup dan handai tauland yang senantiasa memberiku semngat, doa dan perlindungan.

Hanya berkat itulah, tahun ini juga menjadi tahun yang spesial, Ketika doa saya dijawab allah. Alhamdulillah diterima beasiswa LPDP dan diterima di universitas di Korea dan Jerman. Walaupun belum dizinkan untuk kuliah disana, Saya bersyukur akhirnya mendapatkan kenyataan yang saya pikir mustahil untuk diraih beberapa tahun yang lalu

Biarkanlah hari terus berlari. Semoga diumur yang ke 24 tahun saya masih diberikan waktu untuk memperkaya budi, meluaskan ilmu dan mengitari bumi pertiwi. Terima kasih semuanya. Sungguh Indonesia dan alam raya ini indah sekali

2 thoughts on “Catatan Perjalanan Tahun ke 24

  • 7th October 2015 at 12:25 am
    Permalink

    Sangat menginspirasi mas 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.