Love is Patient, Love Never Fails

 
Ada orang yang jatuh cinta tapi takdir memisahkan mereka
Ada orang yang ditakdirkan bersama, tapi tidak jatuh cinta
Ada orang yang saling jatuh cinta, beruntung, takdir juga menyatukan mereka
 
 
Begitulah hidup. Tidak ada yang bisa menebak dengan pasti kemana takdir akan membawa. Cinta memang direncanakan, atau bisa jadi kebetulan. Tapi perkara akan sampai ke pernikahan, semua urusan Tuhan.
 
Yang jelas, tidak ada yang perlu ditakutkan, cemas, apalagi menggalau berhari hari. Untuk urusan perasaan, jika takdir menyatukan kita, jodoh takkan kemana, seberat apapun syak wasangka, hati kecil tak bisa dibohongi. Kemanapun kaki melangkah, hati selalu tahu kemana ia harus kembali.
 
Saya selalu percaya jodoh adalah goresan tangan-tangan Tuhan. 15 Juli 2016 saya khitbahkan lantunan ijab qabul di depan penghulu dan para saksi. Bismillah, saya menikahi pasangan hidup saya, Kharisma Utari.
 
Hari itu, adalah hari terbaik dalam hidup saya. Dibalik segala cobaan ditengah kuliah dan amanah organisasi, tak pernah membayangkan acara pernikahan sekhidmat itu. Bupati dan wakil Bupati datang memberikan wasiat pernikahan, plus tamu undangan yang datang memadati ruangan. Kaki saya kram, otot tangan sampai lemas berjabat salam, senyum di pipi sudah kaku. Tapi saya tak bisa membohongi perasaan, saya bahagia, ternyata jalinan silaturahmi dengan kerabat masih terjaga, dan keluarga kami begitu dicintai di kampung kalaman.
 
Selain guru SMA, teman dekat dan keluarga, banyak yang tidak tahu, sudah lama cerita asmara ini berjalan. Pandangan pertama menggetarkan hati kami berdua. Indah sekali, bertatap untuk pertama kali, serasa seisi bumi ini berhenti. Alam bersenandung menyampaikan pesan penanda bertemunya dua insan. Ah, tak perlu kupanjang-panjangkan kata-kata gombal ini. Kawan, kau pasti tahu apa rasanya.
 
Sejak saat itu kami berkirim surat, Jawa-Sumatera memisahkan kami berdua. Mungkin ada yang tidak percaya, zaman gadget secanggih ini kok masih ada yang menjalin cinta ala Siti Nurbaya. Tapi, itulah adanya. Tidak seperti teks-teks whatsapp yang tidak ada wujud fisiknya, surat cinta itu seperti tongkat sihir, bisa menyulap hati gelisah menjadi bahagia, membuat pikiran flaaay dimabuk asmara. Itu sudah.
 
Hingga surat nikah sah di tangan, tak pernah kami tinggal berdekatan. Istilah kerennya, Long Distance Relationship. EL DE ER !! Awalnya saya berpikir ini suatu kebetulan. Tahun 2008 saya mati-matian mengejar kuliah di UI, tapi Allah menakdirkan UGM, dan dirinya malah keterima di UI. Pasca kuliah saya ingin sekali bekerja dan tinggal di Jakarta, modusnya, minimal sesekali bisa melipir ketemu tambatan hati. Apa yang terjadi, memang head office saya di Jakarta tapi penempatannya di Kalimantan. Gagal maning.
 
Akhirnya saya percaya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tetap ada rencana Tuhan dibalik semuanya. Tuhan sepertinya menginginkan kami untuk paham lebih jauh tentang arti cinta sejati. Tuhan ingin menguji kami dengan kesepian, agar nanti paham arti kesetiaan. Allah menghendaki agar kami sama-sama berjuang memantaskan diri. Agar kelak paham bahwa tidak ada yang bisa merubah nasib keluarga, selain jerih payah tangan sendiri.
 
Selama proses itu pula, jatuh bangun hubungan asmara kami lalui. Tertawa, bertengkar, ngambek dan sikap kekanak-kanakan lainnya sudah pernah kami lewati. Dan semuanya itu terjadi secara semu, lewat dunia maya. Naas sekali :’(
Menjalin asmara lewat dunia maya itu tidak seperti buah manggis yang bisa ditebak berapa isinya dengan melihat pantat buahnya. Semuanya penuh teka teki.
 
Kadang saya menulis teks mengiba-iba, bujuk rayu gundah gulana, tapi pada kenyataannya biasa saja. Atau sebaliknya, mengirimkan pesan seperti tidak terjadi apa-apa, tapi nyatanya rindu setengah mati. Tapi disanalah letak kebahagiaanya. Bagi kalian yang pernah merasakan apa itu LDR, pasti tahu rasanya.
 
Hingga detik ini, saya tidak pernah tahu jawaban pasti kenapa kami saling mencintai. Pada dasarnya kami berbeda, kulit saya gelap senja, kulitnya terang benderang matahari pagi. Saya emosian, ia penyabar, saya selalu terburu-buru, ia terlalu mendetail dan selektif. Saya suka keramaian, ia anti kerumunan.
 
Tapi mungkin itulah cinta, soal sejauh mana kita bisa menerima kekurangan yang ada. Itulah yang kemudian mengirimkan balik energi yang tak terkira, sehingga kami bisa menguatkan satu sama lain. Darinyalah saya memberanikan diri bertutur dalam Bahasa inggris. Dialah yang memberikan saran ketika saya memutuskan untuk bekerja sekaligus resign dari perusahaan. Dialah yang selalu mengurai optimisme disaat saya gagal. Jika bukan karena dia, takkan mungkin saya bisa sejauh ini dan menggenggam mimpi lebih tinggi.
 
Cinta tanpa syarat itu akhirnya menyatukan kami. Mengikis semua kegelisahan dan ketakutan akan masa depan.
 
Ternyata benar, siapa yang menjalin cinta atas dasar kegagahan dan kecatikan, semua akan sirna digantikan orang-orang yang lebih gagah dan cantik. Siapa yang jatuh cinta karena harta, semua akan hilang digantikan oleh orang-orang yang lebih kaya dan berpunya. Siapa yang meletakkan cinta atas dasar hati dan kesetiaan maka tak ada yang bisa menggantikan. Sebab hati dan kesetiaan itu barang yang unik, khas, branded, dan hanya dimiliki oleh masing-masing orang.
 
Sebelum saya tutup note ini, ada pesan perasaan yang ingin saya sampaikan. Bagi teman-teman yang saat ini masih galau tentang jodoh, tak usah bermuram durja. Laki-laki baik, pasti akan mendapatkan perempuan baik, begitu juga sebaliknya, perempuan baik akan dihadiahkan laki-laki yang selalu mengajaknya menuju kebaikan (An Nur, 26)
 
Lebih penting lagi, jangan pernah percaya dengan kata-kata cinta, saya buka rahasianya, kebanyakan kata-kata itu terinspirasi dari novel-novel nelangsa. Cinta sejati itu tidak berwujud kata-kata. Tak berbentuk, tapi melesat seperti virus, masuk ke ujung ujung sendi dan aliran darah. Jadi, tak perlu menghabiskan waktu membuat status dengan menyusun kata-kata cinta, deretan kata tanpa makna pun bisa dianggap syair andrea hirata apabila cinta sudah tertanam dalam di hati.
 
Oya satu lagi, sebelum buku hijau itu ada ditangan, tak usah umbar kegalauan dan kemesraan di media sosial. Posting macam-macam layaknya dua sejoli yang sudah tidak bisa dipisahkan. Ada tiga kata yang layak menggambarkan tingkah ini, takabur, pinki dan alai.
Alasan yang paling utama, jika seluruh khalayak tahu bahwa kita menanam bunga tapi akhirnya dipetik orang, rasanya jauh lebih menyakitkan ketimbang diam-diam memelihara burung merpati meskipun akhirnya hinggap di laman orang. Jika preposisi kedua yang terjadi, tak ada yang tahu dan peduli, kecuali diri kita sendiri.
 
Sepanjang perjalanan hidup saya, ini adalah note atau status pertama saya tentang cinta yang saya posting di facebook. Momen yang sebenarnya saya tunggu-tunggu sejak bertahun tahun yang lalu.
 
Terima kasih sudah mampir di tulisan ini.
 
Hari ini, mungkin baru awal dari perjalanan kami yang sesungguhnya. Tapi sejujurnya saya bahagia, tidak ada lagi kesepian, pernikahan mengantarkan kami pada kondisi saling menguatkan. Tidak hanya menyatukan dua insan tapi juga menyatukan dua keluarga besar di kampung halaman.
 
Saya ingin mengucapkan terima kasih spesial untuk keluarga, handai taulan yang selalu mengingatkan kami, dan membawa kami pergi melangkah sejauh ini. Terima kasih juga sudah datang pernikahan kami, semoga suatu saat saya bisa membalas doa-doa pernikahan itu dengan bentuk kebahagiaan yang lain.
 
Doakan kami semoga bisa menyelesaikan studi dengan baik.
 
Love is Patient, Love Never Fails
 
 
Manchester, 11.47 PM
Media Wahyudi Askar <3 Kharisma Utari
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>