Abdi Negara

1 Oktober 2016 adalah hari yang spesial untuk keluarga saya. Karena tepat di tanggal itu, ayah saya resmi menyandang status pensiunan dari tugasnya sebagai PNS. Tulisan ini adalah kilas balik perjalanan beliau sebagai PNS. Darinya saya belajar, bahwa mengemban amanah harus dilakukan sepenuh hati, tulus, tanpa mengharapkan materi dan promosi pribadi. Keteladaan beliau pula yang membawa saya kesini. Terbang jauh dari bumi pertiwi.

Tahun 1988, beliau diangkat sebagai PNS di instansi pemerintah yang saat itu bernama Departemen Penerangan (Deppen). Sebagai kaki tangan pemerintah, tugasnya sederhana, datang ke kampung-kampung dan mensosialisasikan kegiatan kemasyarakatan dan program pemerintah. Karena profesi itulah, beliau memberi nama saya “MEDIA”, nama yang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Beliau pernah berujar, ingin sekali anaknya “menjadi “media” bagi masyarakat.

Cerita masa kecil yang saya ingat, saya sering dibawa ke desa-desa. Disana dilakukan pemutaran film layar tancap menggunakan proyekter zaman baheula. Setelah film diputar, kemudian dilakukan sosialisasi program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), program kesehatan dll.  Trik yang menurut saya sangat efektif untuk menjangkau lapisan masyarakat kelas bawah.

Namun demikian, tahun 2000, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan karena dianggap antek-antek Orde Baru. Itulah awal kali pertama saya benci sekali dengan pemerintah. Banjir dihulu, pohon ditebang. Lain masalah, lain pula solusinya.

Akhirnya, setelah Departemen Penerangan dibubarkan beliau dimutasi ke Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Untungnya tetap banyak prestasi yang sudah beliau torehkan, mulai dari penghargaan pegawai teladan hingga dipromosikan menjadi Kepala Bidang Seni dan Budaya, setingkat di bawah Kepala Dinas.

Namun demikian, bagi saya, itu bukanlah cerita yang patut diingat, ada momen lain yang mempengaruhi jalan hidup dan cara berpikir saya.

Tahun 2007, beliau dicopot dari jabatannya oleh Bupati Tanah Datar saat itu. Cerita punya cerita, beliau dicopot karena dianggap terlibat dalam politik praktis atau mendukung pasangan calon Bupati lainnya. Saya tahu betul aktifitas dan karakter beliau, fitnah yang menurut saya pengecut dan dijawab dengan keputusan inkompeten dari sang Bupati. Praktis setelah itu, hampir 1 tahun, ayah saya di non job kan, tanpa pekerjaan yang jelas.

Saat itu, saya kelas 2 SMA dan tidak mengerti politik sama sekali. Tapi hikmahnya luar biasa, karena kejadian itulah, saya mendaftar di Jurusan Administrasi Negara UGM, merubah cita-cita saya yang sebelumnya berkeinginan menjadi engineer. Saat itu saya yakin, ada yang tidak benar dari cara orang-orang ini mengurusi negara. Mengapa Bupati bisa menyalahgunakan wewenangnya? Kira-kira begitulah protes saya saat itu.

Akhirnya, meski berlatar belakang IPA, saya diterima di jurusan Ilmu Administrasi Negara UGM. Bidang ilmu itulah yang akhirnya mengantarkan saya menempuh S3 di luar negeri.

Setelah sempat dicopot jabatannya, beliau pada akhirnya diangkat lagi karena tidak terbukti bersalah. Kemudian menjalankan amanahnya sebagai Kepala Bidang Seni dan Budaya hingga beliau pensiun. Kenapa bukan kepala dinas?. Ah itu sudah, obrolan warung kopi dikampung bilang, kepala dinas hanya untuk orang yang dekat dengan Bupati. Memang seperti itu kenyataannya. Sudah 3 generasi kepala dinas Pariwasata dan Seni Budaya di Kabupaten saya, saya tahu betul siapa mereka. Ya tuhan, tidak ada satupun yang berkompeten. Tahu kenapa Dinas-dinas di daerah tidak ada yang maju, itulah biangnya. Ayam dipimpin itik sawah.

Suatu hari beliau pernah bercerita. Jabatan itu hanya sementara. Tidak perlu dikejar. Jika kita tidak ada, akan ada orang lain. Yang penting kita bahagia, dihormati orang lain, tidak korupsi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ucapan beliau memang nyata adanya. Saya sering mengamati cara beliau memimpin organisasi dan menggerakkan rekan kerjanya. Lebih baik habis gaji sendiri daripada memakan anggaran. Ada satu lagi bukti betapa beliau dicintai oleh banyak orang. Saat pernikahan saya, ada lebih dari 2500 undangan yang hadir dimana hampir semuanya adalah kenalan beliau. Dari situ saya belajar, bukan jabatanlah yang membuat kita dihormati oleh orang lain, tapi sikap, tutur kata, dan kesantunan kita terhadap orang lain.

Penghormatan atas jabatan hanya akan melekat ketika jabatan itu disandang. Tapi penghormatan atas dasar kejujuran dan kerendahan hati, akan melekat selamanya tanpa memandang pangkat dan ruang waktu.

Bulan oktober ini, di usia 58 tahun, tuntas sudah pengabdian beliau sebagai abdi negara.

Pertanyaan penting yang saya tanyakan ke beliau, apa yang akan dilakukan setelah pensiun. Beliau ternyata ingin berdagang serta menjual buku-buku adat Minangkabau, agar anak muda Minang tidak lupa denga adat istiadat dan identitas mereka sebagai orang Minang. Keinginan yang saya yakin datang dari hati beliau yang paling dalam.

Saya bangga sekali, dilahirkan dari keturunan orang hebat. Tanpa keteladanan beliau, saya tidak akan mungkin menginjakkan kaki disini.

Ada satu ungkapan beliau yang jadi cambuk motivasi buat saya.

Kalo apa (Papa) bergelar master, anak minimal harus Doktor.

Itu kenapa, mau tidak mau saya harus menyelesaikan studi disini.

Selamat mengabdi dalam bentuk lain Paa. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan.

One thought on “Abdi Negara

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>