Meminjamkan Uang Tanpa Merusak Persahabatan

Meminjamkan uang kepada teman dekat adalah bukti persahabatan. Banyak yang bilang, teman sejati bisa dibuktikan dengan seberapa “royal” seseorang memberikan uang kepada sahabatnya. Namun demikian, memberikan pinjaman kepada teman dekat juga bisa menjadi bumerang. Tidak sedikit kejadian dimana hubungan persahabatan yang telah terjalin puluhan tahun, harus rusak gara-gara hutang.

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi kawan lama. Kita sudah tidak berjumpa bertahun-tahun. Setelah ngobrol basa basi, yang bersangkutan menyampaikan keinginannya untuk meminjam uang demi keperluan sehari-hari. Katanya, hidup di perantauan tidak mudah. Tidak adanya pekerjaan tetap memaksanya untuk berhutang sana-sini. Karena obrolan yang kita lakukan adalah via chat online, saya hanya bisa membayangkan wajahnya yang sayu dan penuh kekhawatiran.

Saya akhirnya memberikannya pinjaman. Saya berpikir bahwa bantuan itu minimal akan mengurangi kesulitan hidupnya dan bentuk nyata solidaritas persahabatan. Namun demikian saya melakukan beberapa pertimbangan

 1. Meminjamkan uang sesuai kondisi kantong

Daripada berbohong, lebih baik berterus terang tentang kondisi keuangan kita. Kadangkala, tidak semua orang sanggup berkata jujur, gak enakan dan penuh basa basi. Sehingga akhirnya meminjamkan uang dengan rasa terpaksa. Kondisi inilah yang bisa memicu hubungan yang tidak harmonis. Oleh karena itu, pelajari isi kantong. Jika memungkinkan, berikanlah, tapi jika tidak, jangan dipaksakan.

 2. Berekspektasi bahwa uang itu tidak akan kembali

Akan jauh lebih nyaman kalau kita bisa menganggap pinjaman tersebut adalah hadiah persahabatan. Jika yang bersangkutan tidak  mengembalikan, ya sudah. Anggap saja itu tabungan akhirat dan pemberian atas dasar kemanusiaan (Al-Baqarah 280)

 3. Memberikan bentuk bantuan yang lain

Dalam kondisi tertentu kadangkala kita bisa membantu teman tidak selalu dengan uang. Dalam kasus yang saya alami, dia mengatakan butuh pekerjaan. Sehingga saya juga mengirimkan nomor kontak beberapa HRD perusahaan serta memberikan tips-tips melewati wawancara kerja.

 4. Mencatat hutang-piutang

Idealnya kita meminjamkan uang dengan membuat kesepakatan tertulis diatas kertas (Al Baqoroh 282). Strategi ini bisa memastikan agar uang kita kembali dengan menjaga komitmen kedua belah pihak. Namun demikian, budaya kita masih belum terbiasa melakukan hal ini. Banyak yang beranggapan, apa iya, urusan membantu teman harus dibuat rumit dan ditempel materai 6000?

Karena tidak memungkinkan melakukan pencatatan, saya akhirnya lupa tentang hutang tersebut. Untungnya, beberapa bulan kemudian, uang saya kembali. Kawan tersebut menghubungi saya kembali dan mengucapkan terima kasih. Hanya saja, beberapa waktu setelah itu saya mendapat kabar dari teman yang lain bahwa dia memang terkenal tukang pinjam uang, gali lobang tutup lobang karena kecanduan narkoba. Tapi ya sudahlah, yang penting uang kembali.

TIDAK SELALU SESUAI EKSPEKTASI

Yang jelas, tidak selalu urusan pinjam meminjam dengan teman dekat berjalan dengan mulus. Suatu ketika saya meminjamkan uang kepada teman. Orangnya menurut saya baik sekali, ramah, alim dan pekerja keras. Waktu itu dia mengatakan butuh uang untuk buka usaha. Kebetulan saat itu saya baru gajian, sehingga meminjamkannya tanpa pikir panjang. Tapi sayang, hingga hari ini uang itu tidak kembali. Saya belakangan tahu bahwa dia masuk penjara karena kasus penipuan. Tapi tidak apa, setidaknya saya bahagia. Karena bebeberapa waktu yang lalu dia menghubungi saya dan mendoakan kesuksesan saya meski dari dalam penjara. Saya tidak menyesalkan piutang yang tak kembali. Tapi minimal persahabatan kami tetap terjaga.

Saya yakin, kita semua sering berada dalam situasi ini. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mencurigai setiap teman yang meminjam uang. Hutang berhutang sesama teman juga sangat membantu apalagi disaat kita terdesak. Saya pun juga sering meminjam uang kepada teman dekat. Selain karena simple, juga fleksibel.

Hanya saja, kadang kita sulit berterus terang karena takut merusak persahabatan yang telah terjalin sekian lama. Sehingga akhirnya memberikan pinjaman dengan senyum tapi sebenarnya dalam hati menggerutu. Jangan khawatir, jujur saja, sahabat yang baik, pasti akan memahami kondisi sahabatnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>