Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845 Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845 Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845 Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /customers/8/4/e/mediawahyudiaskar.com/httpd.www/wp-includes/kses.php on line 845

Menjadi Konsumen yang Tidak Konsumtif

Sadarkah anda, setiap hari kita dibombardir oleh ratusan iklan. Mulai saat kita bangun pagi, mendengarkan radio, ketika berangkat ke kantor (iklan didalam bus dan kereta), saat kita bekerja (iklan di internet), menonton tv, hingga kembali tertidur. Dengan kata lain, setiap orang yang hidup di zaman modern ini khususnya di perkotaan, pasti terpapar oleh iklan.

Bujuk rayu iklan kadang tidak disikapi dengan bijak oleh masyarakat. Akibatnya, perilaku konsumtif menjadi bagian dari gaya hidup masa kini.

Masifnya iklan hanyalah salah satu faktor penyebab perilaku konsumtif. Faktor lain yang jarang kita sadari adalah tekanan sosial dari lingkungan pertemanan. Ada rasa malu yang sulit untuk dijelaskan ketika kita menjadi satu-satunya orang yang menggunakan handphone jadul disaat yang lain sibuk dengan gadget keluaran terbaru. Kita tidak bisa berdiam diri di rumah ketika teman kantor liburan ke Bali, Paris atau bahkan Hawaii. Atau persoalan sepele, kita sekarang lebih suka makan di restoran Jepang dengan harga mahal asalkan bisa upload foto “kece” di Instagram, padahal kalau urusan rasa, mie ayam abang-abang pinggir jalan jauh lebih nikmat. 

Tanpa kita sadari, pengaruh dari lingkungan sosial ini membentuk suatu budaya baru yang mau tidak mau harus kita terima. Bahwa definisi orang kaya dan bahagia adalah mereka yang punya tas branded, liburan ke luar negeri, atau punya mobil mewah merk terbaru.

Disatu sisi banyak orang beranggapan bahwa konsumerisme adalah hal yang wajar. Tas mahal yang dibeli, uang yang dipakai untuk jalan-jalan ke luar negeri adalah balasan yang pantas atas kerja keras yang telah dilakukan setiap hari. Membeli barang mewah adalah salah satu cara untuk mengekspresikan kesuksesan serta “memantaskan” diri di tengah komunitas.

Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja kita tidak sadar bahwa konsumerisme itu ibarat “candu” yang memaksa kita untuk terus membelanjakan uang demi memenuhi hasrat akan kebutuhan-kebutuhan tersier.

Masalahnya, kita menjadi semakin sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Ingin hidup seperti para pejabat, artis, atau musisi terkenal. Kita seakan-akan merasa rendah diri apabila tidak mampu menyaingi harta kekayaan tetangga kita. Kita seakan-akan malu untuk mengatakan bahwa kita belum punya cukup uang untuk membeli barang-barang mewah. Akibatnya, kita tidak pernah merasa cukup, hidup dalam tekanan serta jauh dari kebahagiaan. Inilah logika yang diiginkan oleh para produsen. Perilaku konsumtif tidak hanya mempengaruhi perilaku kita tapi juga cara berpikir kita tentang standar kebahagiaan.

Efek negatif konsumerisme

Sejatinya iklan yang muncul di TV, koran, ataupun di pinggir jalan bertujuan untuk memberikan informasi kepada konsumen tentang keunggulan produk yang ditawarkan. Namun demikian, fungsi itu telah bertransformasi sedemikan rupa di era modern ini.

Iklan yang beredar hari ini tidak hanya mempromosikan keunggulan produk, tetapi bagaimana caranya agar iklan tersebut berhasil memanipulasi keinginan konsumen yang sebelumnya tidak pernah berpikir untuk membeli produk yang diiklankan. Misalnya dengan memberikan diskon gila-gilaan, visualisasi yang menarik, ataupun penggunaan brand ambassador dari kalangan artis sinetron.

Sebagai contoh, kita sebenarnya tidak membutuhkan laptop baru. Tetapi, setelah melihat iklan laptop di pinggir jalan kita kemudian berpikir untuk segera mengganti laptop yang lama dengan yang baru. Sehingga kita membeli sesuatu yang sebenarnya belum atau tidak kita butuhkan.

Masalah yang lain, dalam banyak kasus kita seringkali menemukan iklan yang mengaitkan produknya dengan masalah sosial. Misalkan dengan membeli suatu produk, kita telah berkontribusi untuk pelestarian lingkungan, pemberantasan kemiskinan, dll. Sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama para produsen. Strategi ini biasanya sukses memanipulasi cara berpikir masyarakat agar terus berbelanja dan membeli produk yang ditawarkan.

Dampak negatif lain dari konsumerisme yang luput dari perhatian kita adalah persoalan lingkungan. Studi yang dilakukan oleh Worldwatch Institute menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat telah memicu berbagai persoalan lingkungan mulai dari habisnya sumber daya mineral, polusi, hingga perubahan iklim.

Saatnya berubah

Kita tidak mungkin mematikan TV, gadget dan sosial media lainnya untuk menghindari iklan. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mencermati setiap iklan yang kita baca dan kita lihat setiap hari. Apakah iklan itu disampaikan oleh sumber yang terpercaya dengan harga yang masuk akal. Lebih penting lagi, tanyakan pada diri sendiri apakah kita benar-benar membutuhkan produk tersebut.

Tidak ada yang salah dengan membeli handphone baru dan membeli sesuatu yang kita inginkan. Tetapi pastikan, kita menghabiskan uang lebih sedikit dari penghasilan yang kita dapatkan, serta memiliki tabungan yang cukup untuk masa depan dan hari tua.

Kita juga harus berani memutuskan kebijakan finansial berdasarkan keinginan kita sendiri tanpa merasa terbebani oleh tuntutan pergaulan dan gaya hidup masyarakat modern. Sepanjang kita terbebas dari tekanan sosial dan jebakan iklan, saya yakin kita bisa membangun standar kebahagiaan kita masing-masing tanpa harus merasa ketinggalan zaman. Menjadi konsumen yang tidak konsumtif.