Dong Juga Ingin Sejahtera

Matahari sore menyongsong kampung iguriji. Tiga orang wanita paruh baya dengan beberapa tumpukan ubi masih duduk dengan pandangan kosong menanti seorang pengepul sayur langganan yang selalu datang setiap sorenya. Ketika sinar matahari mulai hilang dari wajah mereka, seorang diantaranya kemudian terbangun limbung seiring datangnya pengepul sayur.

Mas, hari ini ada dua karung petatas (ubi) dan sekantong sayur gedi. Tidak berapa lama, pengepul yang merupakan pemuda pendatang itu mengeluarkan dua lembaran uang Rp. 10.000 dan bergegas pergi memutar kendaraannya menuju kampung lokal lainnya. Hari itu, Berserina hanya mampu memanen sedikit ubi, ”kitorang hari ini menebang kayu dan buka hutan, ubi belum bisa diambil (dipanen)” kata Berserina, yang tidak sempat menamatkan pendidikannya dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini.

Dalam perjalanan pulang, tangannya membawa beberapa potong ubi dan sekantong sayur gedi,sayur khas papua yang sudah menjadi sayuran rutinnya setiap hari. Yang pasti, ketika orang yang belum pernah ke Papua melihat jalannya yang timpang, memasrahkan tubuhnya dihimpit dua noken besar yang masing-masing berisi ubi dan anak sulungnya, hatinya pasti akan ngilu. Di tengah hidupnya yang terpinggirkan, Berserina sepertinya tetap membanting tulang belulang, berkeringat darah dan bekerja keras.

Berserina adalah seorang perempuan dari kampung Iguriji, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Berladang petatas (ubi) dan memetik hasil hutan sudah menjadi aktifitas rutinnya setiap hari.. Kehidupan yang dialami oleh Berserina sudah berlangsung lama, atau sejak dulu. Membuka lahan, menanam ubi dan sayur-sayuran, untuk sesekali dijual di pasar dan selebihnya dikonsumsi untuk makanan sehari hari.

Potret kehidupan yang dijalani Berserina dirasakan hampir sebagian besar penduduk kampung lokal lainnya di Kabupaten Teluk Bintuni. Pagi hari mereka berangkat menuju ladang-ladang mereka, sore hari hari beristirahat dan memasak hasil panen dari ladang-ladang mereka. Menjelang malam hari mereka makan sambil menonton tv . Bila malam telah mulai larut mereka kemudian tidur. Aktifitas itu sudah menjadi kebiasaan yang rutin setiap hari.

Sosok Berserina benar-benar menjadi jembatan bagi kami untuk mengenal kampung Iguriji, ia juga yang membawa kami hanyut dalam kehidupan masyarakat kampung. Suatu waktu, Berserina pernah bercerita kepada kami, “kalian tidak perlu takut, meskipun orang iguriji hidup susah tapi kami tetap tentram dan saling membantu. Mama-mama disini baik-baik, memang terlihat malu-malu tetapi tidak.”.

Setau kami, Berserina memiliki karisma yang besar, Dia bercerita banyak tentang kesejahteraan masyarakat kampung iguriji. Kegetiran pun diungkapkan Berserina, “dulu kami tinggal di gunung, baru dipindah oleh pemerintah kesini dan dikasi buat rumah tapi kita masih saja susah, anak sekolah jauh, banyak mama tak mampu berbuat apa-apa selain ke ladang”

Pertanian dan Penyangga Ekonomi Warga

Satu hal yang tidak bisa kami lupakan dari sosok Berserina adalah dia punya cita-cita besar agar semua mama-mama di Iguriji punya keahlian khusus dan bisa dapat penghasilan, tidak hanya dibidang pertanian. Tetapi kemudian dia mengungkapkan itu sangat sulit terjadi meski sudah diberikan pelatihan khusus oleh pemerintah. Hal itu disebabkan karena bagi kebanyakan masyarakat kampung iguriji khususnya mama-mama sudah menganggap kegiatan berladang sebagai aktifitas rutin yang harus mereka lakukan sehari-hari.

Bagi mereka plihan itu bukanlah tanpa alasan. Itulah pilihan terbaik yang bisa mereka lakukan, karena hanya dengan pertanian itu mereka bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Disamping mereka tidak punya keahlian lain diluar bidang pertanian.

Di sela-sela kehidupan kami bersama warga, dalam beberapa kali kesempatan kami pernah diajak ikut berladang bersama mama-mama dan anak-anaknya. Pola pertanian yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kampung iguriji terbilang sederhana. Yaitu dengan membuat lubang diladang dengan menggunakan linggis kemudian ditanami bibit sayuran dan petatas. Pola seperti itu mereka lakukan secara terus menerus, berpindah dari ladang yang satu ke ladang yang lainnya.

Mama berserina, yang kami temui dalam perjalanan pulang dari ladang mengungkapkan, terkondisinya mereka dalam aktifitas seperti itu berkaitan dengan budaya mereka yang sudah sejak lama identik dengan pola pertanian subsisten dan hidup dengan berburu. Alasan mereka mempertahankan pola seperti itu sebenarnya sederhana, mereka ingin tetap bisa makan. Pola pertanian subsisten memungkinkan mereka untuk panen setiap harinya. Pada kenyataannya, mereka memang tidak pernah kelaparan.

Menurut pengamatan kami, dengan kondisi seperti itu mereka hanya memperoleh kebutuhan hidup dalam batas minimal, hanya untuk kehidupan mereka sehari-hari. Dengan pola pertanian subsisten, praktis tidak ada penghasilan yang mereka dapatkan. Pendapatan yang mereka peroleh dari hasil pertanian mereka umumnya sangat terbatas, tidak bisa dipastikan, dan hanya berkutat pada kebutuhan primer, semacam logika “gali lubang, tutup lubang”.

Masyarakat di kampung Iguriji umumnya sedikit sekali memiliki penyangga ekonomi yang kuat untuk menjamin kehidupan mereka. Ketika ditelusuri apakah ada diantara mereka yang bisa menabung, hampir semua menjawab tidak pernah, tidak ada satupun yang menjawab bahwa mereka sudah mulai menabung untuk hari depan mereka.

Mama Berserina juga bercerita tentang masyarakat yang berpenghasilan minim. “kalau ada buah pisang atau pinang yang sudah masak, mama-mama akan membawanya ke pasar bintuni dan menjualnya, tetapi kalau tidak ada, berarti juga tidak ada uang, terpaksa anaknya tidak berangkat sekolah”

Fenomena ini menjadi satu fakta umum yang dialami oleh sebagian masyarakat di kampung iguriji. Masyarakat kampung lokal memiliki tingkat kerentanan yang relatif tinggi. Sehingga jika terjadi perubahan (sekecil apapun) dalam kehidupan mereka, itu akan cukup membuat terguncang. Faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut, bukan karena persolan nasib atau karena sudah takdirnya. Tetapi diakibatkan oleh akumulasi faktor social yang sangat kompleks. Lemahnya sumber daya manusia, tingkat pendidikan yang rendah maupun pengaruh negative dari kebiasan mereka yang kurang produktif, semuanya menjadi faktor-faktor yang pilin memilin membentuk jaring kusut yang sulit diurai dan menyebabkan masyarakat di kampung iguriji sulit berkembang.

Ironisnya lagi, di kalangan warga masyarakat kampung iguriji, sudah lazim terjadi pendapatan yang mereka dapatkan, bila tidak habis untuk kebutuhan sehari-hari mereka, biasanya habis untuk “minum mabuk”. Jarang sekali masyarakat kampung iguriji yang bisa menabung pendapatan mereka, terutama dalam bentuk uang. Mengenai apa yang dapat diberikan terhadap keluarga mereka, tergantung apa yang dimiliki saat itu dan hari ini.

Intervensi Pemerintah

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung lokal, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni telah berulang kali melakukan intervensi kebijakan bagi masyarakat kampung, baik pada sektor ekonomi, pemerintahan dan infrastruktur. Pada sektor ekonomi, Pemerintah Kabupaten teluk Bintuni telah mengembangkan program pertanian dan agribisnis. Masyarakat kampung dilatih untuk menerapkan pertanian modern, diajarkan teknik pengolahan pangan dan peternakan, dan peningkatan produksi pertanian. Pada bidang pemerintahan, Pemerintah juga telah mendukung penuh pembangunan kampung dengan kucuran dana yang sangat besar. Di bidang infrastruktur, pemerintah juga telah melengkapi kampung dengan balai kampung, posyandu, taman kanak-kanak, dan fasilitas public lainnya seperti tong sampah dan tendon air.

Secara empirik, pemerintah telah mengukir “cerita sukses” dalam pembangunan kampung iguriji. Tevirus, salah satu warga kampung iguriji mengungkapkan, selama dua tahun terakhir wajah kampung iguriji sudah banyak berubah. mama-mama di kampung iguriji sudah bisa membuat kue, dan ada yang beternak. Kampung iguriji juga jauh lebih terbuka, dengan jalan yang lumayan mulus, fasilitas MCK yang semakin memadai, serta tersedianya sarana pendidikan dan kesehatan, Dengan kondisi fisik yang semakin baik, mobilitas masyarakat semakin meningkat dan transaksi ekonomi antar kampung dan kota Bintuni juga semakin lancar.

Akan tetapi pembangunan desa ini masih menyisakan masalah. Kesejahteraan warga belum bisa meningkat secara signifikan, Intervensi kebijakan yang dilakukan pemerintah belum sepenuhnya menjamin terjadinya transfer of knowledge kepada penduduk kampung lokal Iguriji, aktifitas ekonomi warga juga masih terjebak pada pola pertanian subsisten, perhatian orang tua terhadap kesehatan anak-anaknya masih sangat minim. Belum lagi soal pendidikan, contoh paling nyata sekolah Taman Kanak-kanak (TK) yang ada di kampung iguriji hanya diisi tidak lebih dari 10 orang siswa setiap harinya dari puluhan orang yang terdaftar di sekolah tersebut

Terkait dengan hal ini, kami pernah melakukan studi sederhana dengan mewawancarai masyarakat kampung iguriji tentang apa yang sebetulnya menjadi kebutuhan bagi mereka saat ini. Berdasarkan temuan studi, prioritas kebutuhan masyarakat di kampung Iguriji sangat beragam. Hal ini erat kaitannya dengan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat kampung iguriji tersebut. Berdasarkan hasil pengelompokan kebutuhan masyarakat kampung iguriji, ditemukan fakta bahwa setidaknya mereka menginginkan empat kebutuhan dasar yaitu ekonomi, sarana dan prasarana, pelatihan kerja dan bantuan pendidikan bagi anak-anak mereka. Pada bidang ekonomi kebanyakan masyarakat menginginkan mereka bisa mendapatkan pendapatan lain selain bertani, serta lapangan pekerjaan bagi anak-anak mereka, masyarakat kampung juga menginginkan bantuan untuk membangun rumah mereka serta adanya bantuan beasiswa bagi sekolah anak-anak mereka.

Dari beberapa kebutuhan yang mereka sampaikan tersebut, sebenarnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat diluar Papua lainnya. Bahkan kami sampai pada satu kesimpulan bahwa masyarakat kampung iguriji tidaklah hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Jika ukuran ketersediaan makanan pokok untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari dijadikan sebagai indikator untuk mengukur kesejahteraan hidup mereka, dengan cepat dapat disimpulkan sebenarnya masyarakat kampung iguriji adalah masyarakat sejatera. Karena pada umumnya mereka tidak pernah kelaparan, alam menyediakan protein, dan karbohidrat bagi kebutuhan mereka sehari-hari. Tetapi apakah persoalannya sesederhana itu ? Jawabnya sudah tentu tidak. Dibalik fenomena tersebut, sebenarnya ada satu persoalan yang harus dihadapi atau menimpa kalangan masyarakat Kampung Iguriji, yakni persoalan minimnya kesadaran masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka

Minus Kesadaran Masyarakat

Sejak masyarakat kampung iguriji dikenalkan dengan modernisasi bertahun-tahun yang lalu, harus diakui bahwa wawasan dan pengetahuan mereka telah meningkat dengan pesat. Masyarakat sudah mulai mengenal cara bercocok tanam yang baik, teknik beternak ayam dan sapi, pengenalan PKK maupun keahlian khusus seperti memasak dan membuat noken. Akan tetapi banyak masyarakat yang justru tidak memanfaatkan keahlian yang sudah dimilikinya untuk meningkatkan perekonomian keluarga mereka.

Aswandi ketua RT 01 di Kampung Iguriji, mengungkapkan meski pemerintah sudah memberikan pelatihan dan bantuan modal tetapi tetap saja gagal, misalnya dulu pernah pemerintah membelikan sapi untuk dijadikan modal awal beternak sapi, tapi justru banyak yang dijual oleh warga bahkan dimakan sendiri. Aswandi kemudian berkomentar lain lagi, menurut dia masyarakat kampung iguriji tidak akan pernah mau mengikuti keinginan pemerintah karena mereka masih merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang, ke ladang untuk makan sehari-hari, ke pasar dan bersantai di rumah sambil minum mabuk.

Fenomena seperti ini sudah bukan menjadi suatu yang aneh lagi di kampung Iguriji, bisa dibilang pembangunan yang terjadi selama ini menemui batu karang yang sulit dipecahkan karena berhadapan dengan kondisi sosiologis masyarakat yang sulit berkembang, sehingga wajar jika banyak pembangunan yang dilakukan di Kampung Iguriji merupakan pembangunan fisik seperti balai kampung, pengadaan tendon air maupun perbaikan jalan kampung bukan pembangunan di empat bidang sebagaimana yang dimaksudkan dalam otonomi khusus yakini pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perekonomian rakyat. Karena pembangunan fisiklah yang dianggap paling realistis dan tampak secara kasat mata

Saiful, yang ditemui penulis di Bintuni juga mengungkapkan bagaimana faktor sumber daya manusia (SDM) masyarakat setempat secara ketat memengaruhi kebijakan pemerintah dan pembangunan masyarakat kampung lokal. Minimnya kesadaran masyarakat membuat banyak kebijakan tidak berjalan dengan baik. Orang Papua, lanjut Saiful, juga memiliki karakter yang berbeda, nilai-nilai positif yang diinginkan dari proses pembangunan yang dilakukan pemerintah, bisa jadi tidak memiliki nilai dan makna apa-apa bagi mereka. Secara umum, mereka belum siap menghadapi kehidupan modern dan sistim baru yang secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka, sebagian besar masih beranggapan bahwa alam masih cukup mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka. “kemampuan masyarakat lokal untuk melakukan perencanaan ekonomi masih rendah, bahkan mereka masih banyak yang belum memahami nilai uang”, paparnya. Hal ini menyebabkan kebijakan pemerintah masih terkendala, karena masyarakat tidak menganggap kebijakan pemerintah tersebut penting bagi peningkatan hidup mereka.

Kendala Struktural

Salah satu faktor lain yang turut menghambat pembangunan kampung adalah kendala structural pemerintahan kampung. Kampung Iguriji memang memiliki wajah baru setelah Kabupaten Bintuni memekarkan diri dari Kabupaten Manokwari di tahun 2004. Bersamaan dengan itu pula terjadi restrukturisasi pemerintahan kampung dengan struktur pemerintahan yang baru, diikuti dengan pembangunan infstruktur penunjang pemerintahan kampung. Namun, sulit dipungkiri pembangunan sistim pemerintahan belum diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur kampung.

Kapasitas aparatur kampung sebenarnya belum memadai untuk dijadikan fasilitator, inisiator dan penggerak kemajuan kampung. Hal ini diakui oleh Aswandi, ketua RW 01 kampung Iguriji, “dana untuk kampung mencapai 100 juta lebih setiap tahunnya, tetapi dana itu tidak digunakan untuk membangun kampung melainkan untuk dibagikan kepada warga kampung”. Hal itu juga bukan karena kesalahan aparat kampung tetapi karena dana itu tidak tahu mau mereka gunakan buat apa. Salah satu program yang masih saya ingat itu pembangunan gerbang kampung yang menelan dana mencapai seratur juta lebih”, tutur Aswandi sambil menunjukkan tangannya kearah gerbang kampung.

Aswandi mengatakan, sebelum memberikan dana apalagi dalam jumlah besar, kemampuan aparatur kampung harus dilengkapi dahulu. Jika kondisi seperti itu dibiarkan berapapun besar dana yang dikucurkan tentu akan sia-sia. Pemerintahan kampung menjadi tidak ada gunanya. Termasuk balai kampung yang sudah dibangun pemerintah di kampung iguriji. Apabila kondisi semacam ini masih terus terjadi Kampung Iguriji akan tetap tertinggal dari waktu ke waktu

Meretas Harapan

Kompleksnya persoalan yang dialami masyarakat di Kampung Iguriji dan Pemerintah Kabupaten Bintuni bukan berarti tanpa solusi. Pasti ada emas diantara timah, pasti ada mutiara diantara disela sela lumpur. Pasti ada banyak jalan keluar yang bisa ditempuh oleh pengambil kebijakan di Bintuni. Meski demikian, butuh loncatan besar yang jauh ke depan (the great leap forward) untuk membangun kampung Iguriji

Yang pasti, tawa sesekali dari anak-anak kampung Iguriji telah membawa kami dalam keriuhan dan kehangatan hidup bersama mereka, kehidupan dua bulan bersama masyarakat kampung iguriji memberi kami pengalaman yang sangat berarti tentang kehidupan. Bahwa ternyata banyak diantara kita selama ini hanya menyandingkan pembangunan dengan uang, uang ternyata hanya materil, uang belum bisa menjamin sepenuhnya kehidupan hakiki seorang manusia. Fenomena yang terjadi di Kampung Iguriji lebih dari sekedar masalah otonomi khusus, kemiskinan ataupun minuman keras yang selama ini sering didengungkan orang-orang. Ada kompleksitas social yang tidak sederhana dibalik semua permasalahan yang ada disana. Satu hal yang cukup membuat kami sedih adalah ternyata keinginan mereka untuk maju sebenarnya ada.

Mama berserina juga pernah bercerita, Dong (dia orang) juga ingin sejahtera, dong juga tidak ingin hidup susah, membawa anak-anak mereka ke ladang dan hanya makan dari hasil ladang mereka. Dong juga ingin punya motor bahkan mobil, mereka juga ingin punya rumah yang bagus seperti masyarakat pendatang, tetapi.. mungkin bukan hari ini

Kami menyalaminya, ingin sekali menyemangati hari-harinya, tapi lidah terasa kelu, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kehidupan berserina dan kampung Iguriji mengintimidasi kami, menuntut dedikasi kami sebagai kompensasi privilese belajar di universitas yang melegenda selama ini. Tapi tidak banyak yang bisa kami lakukan. Meski demikian kehidupan Berserina dan Kampung iguriji adalah metafora kehidupan berharga bagi kami. Meletupkan rasa patriotic. Perasaan yang sebelumnya tidak pernah tumbuh selama hidup di bawah naungan ibu pertiwi

Paling tidak semuanya membuat kami sadar, bahwa tidak semua penduduk Indonesia itu berada pada tingkat kehidupan yang sama. Ketika sebagian besar penduduk bangsa ini mengejar materi dan bergelut dengan teknologi moderen, ternyata masih ada sekelompok masyarakat yang baru berkembang dan suci dari roda zaman. Yang paling absurd, mereka terperangkap puluhan tahun lamanya, tepatnya 66 tahun pasca Indonesia merdeka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.