Jangan Pernah Berhenti Berjuang

Pernahkah anda merasa menjadi manusia yang paling tidak beruntung, dan paling tersiksa? Atau pernahkah merasakan bahwa kita melakukan pejuangan yang lebih berat dibandingkan yang lain?

Tiga momen ini benar-benar menyadarkan saya, bahwa banyak yang lebih tidak beruntung, tapi tetap berjuang lebih keras.

Momen 1
- Seperti biasa saya belanja di toko daging Worldwide (bagi yang pernah tinggal di Manchester pasti tahu). Suatu ketika salah satu tukang jagal ngajak saya ngobrol dan menanyakan studi saya. Cerita berlanjut, ternyata dia lulusan master salah satu Unversitas ternama di UK. Dia bilang, butuh kerja untuk mengumpulkan uang melanjutkan studi S3 di negara kelahirannya. Ada satu kalimat terakhir yang saya ingat dari dia. “Saya ingin menjadi pengajar, insya allah”

Momen 2
- Sambil menunggu pesanan makanan di MyLahore, seorang pelayan mendatangi kami. Singkat cerita, dia bercerita panjang lebar tentang hidupnya. “Saya tidak ingin jadi pelayan restoran, ini bukan saya, saya lulusan kedokteran gigi di Mesir, tapi saya tidak pnya opsi lain, saya migran, saya datang kesini untuk cari kerja skills, tapi saya tidak bisa praktek dokter gigi sebelum saya punya IELTS, saya butuh uang untuk bertahan disini. kalau tahun ini saya tidak bisa mendapatkan IELTS minimal 7 saya diusir dari negara ini”. Percakapan berikutnya, dia bercerita tentang sulitnya mendapatkan skor IELTS, perasaan yang sama seperti yang saya alami sebelum berangkat sekolah kesini.

Momen 3
- Saya sering belajar di lantai 2 perpustakaan, tepatnya ruang komputer barisan pertama. Bahkan tidak jarang pulang larut malam. Selama 2 tahun terakhir saya selalu melihat pria paruh baya belajar setiap malam di komputer yang sama. Sekali lagi, setiap malam!!. Beberapa minggu yang lalu, saya beranikan menyapa dan bertanya kabar. Ah ternyata Bapak ini luar biasa. Dia ayah dari 3 orang anak, dan lulusan farmasi dari salah satu Universitas di Afrika. Untuk bisa bekerja di UK sebagai farmacist dia harus mendapatkan sertifikat dulu. Ternyata untuk mendapatkan itu harus studi dulu selama 4 tahun, lengkap dengan kelas full day dan penelitian. Beliau berujar, 4 tahun sudah dia belajar hampir 12 jam sehari, itupun belum ada jaminan akan lulus.
Memang kadang, disaat kita ditimpa masalah, kita merasa menjadi manusia paling tersiksa. Padahal sebenarya, banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kita tapi tetap berjuang demi hidup, masa depan dan keluarganya.

Tetaplah bersyukur. Jangan berhenti berjuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>