Aku-Papua (chapter 1 – Menembus Tiga Batas Waktu)

papuaaa

Kisah ini adalah kilas balik perjalanan kami menembus tiga batas waktu,  melakukan program pemberdayaan masyarakat di Papua, 4 tahun yang lalu.

Beberapa rekam cerita tak terasa sudah mulai lupa diingatan. Sebelum memori otak saya hang dan ketiban ilmu-ilmu aneh dari negeri seberang, saya tuangkan kisah ini lewat tulisan agar kelak jika nyawa tak lagi menyatu dengan badan, cucu cicit saya bisa membaca ini dengan tertawa, bahwa mereka pernah punya kakek yang “gila”, dan gak taat aturan.

Saya Media Wahyudi Askar, satu diantara 20 orang gila dari UGM yang pengen menginjakkan kaki di Papua. Keinginan waktu itu sungguh mulia, berbagi cerita bersama saudara-saudara di ujung Indonesia.

Terdengar mengesankan bukan, walaupun sebenarnya, sepersekian hati kecil kami juga bertujuan berangkat ke Papua hanya untuk sekedar jalan-jalan atau sok-sok an agar terlihat keren dibandingkan mahasiswa lainnya. Jika anda pernah menjadi mahasiswa, pasti paham. Mahasiswa juga manusia.

Seingat saya, mengumpulkan 20 orang “gila” yang ingin berangkat ke Papua tidaklah mudah. Jika anda penggemar serial One Piece, ceritanya persis sama. Tidak sedikit yang menolak terutama karena alasan biaya, bahaya OPM, serta masalah kesehatan. Masih ingat, salah satu teman yang sudah setuju akan bergabung dengan kami, belakangan memutuskan untuk menghilang tanpa komunikasi setelah mendengar isu bahwa di papua ada buaya darat dan malaria. Asal anda tahu, nama mahasiswa penakut itu sama dengan Kabareskrim, Budi, mahasiswa teknik.

Tapi Alhamdulillah, perjuangan mengumpulkan tim dengan bergerilya keliling fakultas-fakultas tidak sia-sia. Saya menemukan orang-orang terbaik UGM, mulai dari ketua BEM, aktifis mahasiswa, ahli sejarah, ahli budaya, pakar sastra, IT, hingga tukang masak. .

Setelah ngobrol mitang miting berhari-hari, kami menyiapkan program pemberdayaan masyarakat untuk Papua. Tak tanggung tanggung, program kami bombastis !!. menerangi papua dengan inovasi tenaga listrik, mencerdaskan anak-anak papua, menghapus buta huruf, hingga memberdayakan masyarakat.

Yang saya ingat, waktu itu, kami berpikir seperti malaikat. Semacam ibu peri dan bapak peri yang akan menerangi papua dari kegelapan. Kira-kira begitu. .

Akhirnya dengan semangat percaya diri level 100 persen, kami berangkat. .

Ya, berangkat. .berangkat dengan kapal 6 hari 6 malam plus mobil 4 WD selama 12 jam.

Jika boleh jujur, ini adalah perjalanan terbaik yang pernah saya lewati seumur hidup. Pengalaman saya naik bus Padang-Jogja 3 hari 3 malam yang bikin jempol kaki bengkak 1cm belum ada apa-apanya.

Lelah, pasti. .Tapi, belakangan saya sadar, perjalanan ke Papua itu, 6 hari 6 malam itu adalah awal dan titik balik rasa cinta saya terhadap tanah air.

Kami naik kapal Labobar. Kalau tidak tahu bentuk dan rupa kapal Labobar, bayangkan Titanic versi Indonesia. Jika titanic adalah Bus Ramayana, Labobar adalah Kopaja Senen-Pulo Gadung.

Fungsinya kurang lebih sama, tapi cita rasa sungguh sungguh berbeda.

Setelah masuk berdesakan melewati Portir (tukang angkut barang) selama 1 jam di pelabuhan Tanjung perak, kami akhirnya berhasil masuk ke dek kapal dan. .

Eng ing eng. .

Benar saja, sesuai dugaan, tidak sama dengan Titanic seperti di film-film. Tak ada lukisan dan meja piano apalagi lampu lampu menggantung diatap kapal. .

Yang kami temukan didalam dek kapal, adalah Pasar Jatinegara yang dipindah ke dalam kapal. Semrawut, banyak sampah, dan pedagang berseliweran. .

Saya tahu, beberapa diantara kami mungkin shock dalam diam, liburan indah ke papua yang ada dalam kepala, malah berwujud bencana didepan mata, 6 hari 6 malam di tengah pasar tanpa kasur ? Sungguh naas !!

Sebetulnya kami, 20 orang memegang tiket kelas ekonomi. Kami punya hak 1 kasur untuk 1 orang. Tapi, inilah Indonesia !!, tempat dimana semua yang aneh menjadi nyata.

Kasur yang seharusnya menjadi hak kami sudah dipalang garis polisi (baca:tali raffia) oleh preman-preman didalam kapal. Mau Kasur ?, Bayar !
Saat itu, saya cuma diam. Kali pertama saya hanya bisa diam dengan ketidakadilan didepan mata. Sebelumnya, semasa mahasiswa, dengan jiwa kritis sok-sok an saya pernah hampir berkelahi dengan tukang ojek yang mau nipu atau teman yang memaksa saya berbohong untuk MLM. Tapi kali ini sungguh berbeda. .

Saya tidak melihat penumpang yang lain protes dengan ketidakadilan ini. Seorang ibu dengan anaknya, hanya berlalu dan berjalan menuju pojok dek seraya menggelar kain mempersiapkan tempat beristirahat 6 hari 6 malam. .

Saat itu, dalam kondisi semrawut, bingung dan tak tahu arah, saya hanya membayangkan 7 teman perempuan tim kami yang harus tidur di tengah dek dan preman semacam itu. Oh tidak, apa jadinya jika mereka di di di dan di. .oleh preman. Saya bisa jadi orang pertama yang diperiksa kepolisian, plus interogasi dari orang tua mereka, bahwa saya adalah ketua tim yang tidak bertanggung jawab. .

Tapi setelah itu. .

Entah dari mana datangnya, muncul ide
“Kenapa tidak cari petugas kapal. . Mereka pasti punya kamar pribadi dan sewa kamar mereka. .”

Sejurus, saya dan beberapa teman berjalan menuju dek paling bawah dan bertemu beberapa petugas kapal.

Benar saja, seperti sudah biasa, mereka bersedia menyewakan kamarnya. .

Setelah melihat kamarnya berukuran 2×6 meter dengan 2 kasur spring bed plus AC. tanpa basa basi, saya langsung menawar kamarnya.

3 juta 500 !!

Saat itu, saya tidak lagi bisa berhitung itu mahal atau tidak. Yang jelas, akhirnya deal.

Jika saya ingat-ingat kembali, sungguh sulit mendeskripsikan itu benar atau salah, itu suap atau jual beli, Jika itu jual beli, maka itu adalah jual beli terbaik yang pernah saya lakukan dalam situasi terjepit. Jika itu adalah suap. Itu adalah suap pertama yang pernah saya lakukan. .

Tapi. .setidaknya kami lega, meski tidur berdesakan, tidak ada gangguan preman, dan jauh dari pasar Jatinegara.

Yang jelas saat itu kami hanya memikirkan diri kami sendiri (20 orang), tanpa harus tahu apa yang dirasakan oleh ibu dan anak tadi, atau orang orang yang tidak bisa membayar/menyuap petugas kapal. Mungkin saja mereka hanya tidur beralaskan koran dan tikar, 6 hari 6 malam

Kami akhirnya tertidur
Hari pertama. .menuju Papua
Kami tertidur dalam keegosian

Bersambung. .

 

 

Kapal Labobar

2 thoughts on “Aku-Papua (chapter 1 – Menembus Tiga Batas Waktu)

  • 13th May 2015 at 8:08 am
    Permalink

    Hanya bisa bersyukur bahwa ak sudah “sempat” mjd bagian kecil dr hidup teman yg sgt kubanggakan..

    Reply
    • 25th May 2015 at 12:03 am
      Permalink

      makasi tur. .kau jg shabat hebat, yang paling sabar, yang pernah kukenal. .moga nanti ada waktu lg, untuk main PS bareng lagi. .sukses slalu tur :)

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>