Ketika Menjadi Preman Lebih Bermartabat

Tanpa sengaja saya menemukan kembali foto orang ini. Sudah 3 tahun, tidak pernah lagi melihat wajahnya. Ah, saya benci tapi rindu orang ini.

Percaya atau tidak, kalau kalian bertemu orang ini, rasanya menakjubkan.

Melihat tampang songongnya, bikin tangan pengen nampol. Cara berjalannya macam Brock Lesnar. Cara bicara nya bikin hati meradang. Tingkahnya bikin banyak orang pengen ngeracunin, terus buang ke sungai.

Dia adalah Hamansyah, jagoan kampung Muara Bakah, Kalimantan.

Waktu itu tahun 2012, saat saya bekerja di salah satu perusahaan tambang di Kalimantan, banyak sekali orang-orang yang membencinya, terutama karyawan-karyawan perusahaan. Berurusan dengan dia jauh lebih sulit ketimbang mengurus pajak, bahkan lebih sulit daripada berurusan dengan pejabat maupun aparat kepolisian.

Hamansyah menjadi jenderal bagi puluhan anak buahnya “memalak” perusahaan tambang. Setiapkali bongkar muat barang yang masuk ke wilayah tambang, perusahaan tidak berurusan dengan kepolisian, tetapi harus mendapatkan ijin dari bos preman ini, plus fee uang saku yang tidak sedikit jumlahnya.

Sudah banyak cerita dan omongan warga tentang ulahnya. Saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri, beringasnya dia memukul salah seorang warga dan juga karyawan perusahaan. Jika Jakarta punya Hercules dan Anton Medan, dia adalah jagoan versi kampung Kalimantan.

Sebagai kaki tangan perusahaan, saya ditugaskan untuk mengatasi masalah ini, minimal biar perusahaan gak rugi lebih banyak. Nama profesinya Corporate Social Responsibility staff. Keren bukan? Tapi kalo diterjemahkan dalam bahasa hati, artinya: “Tameng Hidup Perusahaan”. Naas.

Suasana pertama berkenalan dengan Hamansyah begitu menggoda. Saya dimaki-maki.

Suatu ketika, saya dipanggil dan dibawa ke belakang rumah. Dia marah-marah, tapi beruntung, saya tidak digebukin. Kalo iya, positif itu sudah. Mati.

Entah kenapa, waktu itu saya jadi sangat pemberani. Pengalaman hidup di Papua tampaknya sudah berhasil menempa otak ini untuk tidak panik dalam situasi sesulit apapun. Pengalaman berkawan dengan tukang ojek, begundal dan preman waktu di kampung dulu membawa hikmah tak terduga. Selama kita bisa mengatasi emosi dan menyelami jalan berpikir mereka. Tak ada preman yang tidak bisa ditaklukkan.

Butuh waktu hampir 1 tahun untuk meyelami cara berpikirnya. Sudah beragam cara saya lakukan. Pernah berdebat, tapi gagal total, logika dibalas dengan jawaban absurd. Pernah juga mengancam dia ditangkap polisi. Tapi bukan preman namanya kalo takut sama aparat. Dia sudah jumawa duluan, tak ada polisi yang berani menangkapnya.

Akhirnya, saya menemukan satu strategi paling ampuh.

Cerita punya cerita, doi ternyata pemain bola voli terkenal di kampungnya.

Yang saya lakukan adalah, saat ada turnamen voli di kampung, saya selalu datang memberikan dukungan, plus pujian-pujian manis.

“Ah, hebat kali kawanku ini, smashnya kuat, bisa bikin kucing mati”, begitulah kira-kira.

Strategi itu sukses, hari berganti hari, setelah hampir tiap hari bertemu, kami bersahabat. Tak ada lagi sekat preman vs karyawan perusahaan yang mengganjal. Tak pernah ada lagi kata makian, semua persoalan diselesaikan sambil minum kopi di warung kampung. Si bos juga sering mengajak saya makan di rumahnya dan ketawa-ketawa dengan bocah kecilnya.

Semenjak kami berkawan, saya berasa punya kekuatan satu kampung. Bersama, kami bisa melakukan segalanya. Mulai dari ikut-ikutan mendemo perusahaan, mengancam kepala desa, maupun mengintimidasi polisi yang juga ikut-ikutan malak perusahaan.

Diluar itu, perkawanan kami membawa saya pada banyak hikmah kehidupan. Bahwa ternyata, se-preman apapun seseorang, dia pasti sangat sayang pada anak-anaknya. Satu lagi yang lebih aneh bin ajaib, doi ternyata sangat takut pada istrinya. Haha. Tak perlu saya jelaskan bagian ini, geli geli sedap.

Ada satu pesan berharga yang saya ingat dari dia yang tidak mungkin saya lupakan. Alasan yang membuatnya tidak mau bekerja di perusahaan tambang seberang rumahnya, dan memilih menjadi preman.

Dia berujar:

“Saya tidak akan diam kalo kawan-kawan dikampung cuma bekerja macam babu di perusahaan, ini kampung kami, tanah kami, dan tempat kami bermain sejak kecil”.

Hal itu membuat saya sadar. Bahwa pilihan menjadi preman belum tentu 100 persen karena uang. Tetapi juga akibat ketertindasan, dan eksploitasi terhadap orang-orang di sekitar mereka.

Saya pernah membayangkan, jika kampung saya digaruk oleh perusahaan tambang yang eksploitatif dan hanya meninggalkan sebagain kecil mata pencaharian untuk masyarakat. Saya jelas lebih memilih menjadi preman, karena tampak lebih mulia dan bermartabat ketimbang menjadi babu dibawah ketiak bos-bos tambang.

Awal tahun 2014, terakhir kali kami bertemu. Sebagai ucapan perpisahan, saya menantangnya bertukar tas. Saya rela menukar tas sandang saya yang berisi kamera DSLR dengan tas sandang kecil yang selalu dibawanya kemana-mana.

Seperti diduga, sambil tertawa dia menolaknya.

Tampaknya dia masih belum rela memberikan revolver kesayangannya. Haha.

Kawan, sampai jumpa lagi dilain waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>